Turtles, 365 days per year

What are you looking at?
Cagar Alam Ujung Genteng adalah tempat istimewa dimana anda dapat menyaksikan penyu bertelur sepanjang tahun dan bahkan bermain dengan anak anak penyu yang baru menetas, asalkan anda bisa menjadi turis bertanggung jawab, tentunya!
Seorang teman dari Taiwan pernah berkata, “Ketika saya masih sekolah dulu, saya pernah ikut paman yang sedang meneliti penyu. Setiap malam selama satu bulan saya ikuti Paman saya itu ke pantai, tapi saya hanya lihat 2 penyu”.
Alamak, kasihan sekali temanku dan pamannya itu bertengger semalaman di pantai tanpa hasil. Padahal kalau saja mereka tahu, di Pantai Pangumbunan di Ujung Genteng, Sukabumi, 365 hari per tahun semua orang bisa bertemu minimal satu penyu dan bahkan bertemu puluhan anak penyu. Atau setidaknya begitulah yang saya dengar dari milis dan situs pariwisata lokal.
Demi pembuktian inilah saya dan tiga orang sahabat rela terbanting banting selama perjalanan tujuh jam dari Jakarta sampai akhirnya tiba di kawasan cagar alam Ujung Genteng, Sukabumi. Tiba pukul delapan malam, empat tukang ojeg sudah siap sedia mengawal kedatangan kami dari losmen melalui jalan tanah berbecek becek dan semak semak gelap gulita ke lokasi penangkaran penyu.
Di tempat yang terkesan sangat sederhana hanya dengan beberapa bangunan tua itulah kami disambut oleh Pak Tobi dan teman-temannya, semuanya penduduk lokal yang merangkap menjadi penjaga tempat penangkaran penyu. “Belum ada penyu nya, baru mau dicariin sama yang jaga. Liat anak anaknya dulu ya?”, ujarnya seraya menuntun kami ke salah satu bangunan rumah di kompleks itu.
Seperti dari luar, di dalam rumah ini juga tidak terlalu mengesankan. Di satu sisi ruangan berjejer motor-motor, pastinya tempat parkir lokal para penjaga kompleks. Sementara di sisi lain ada satu buah meja belajar dengan buku tamu dan beberapa poster yang sedikit kotor tentang penyu-penyu dan beberapa hewan langka lainnya, termasuk elang jawa. Dua lampu pijar menerangi ruangan tapi tetap cukup remang-remang, ala kadarnya.

Saling berebut mendaki dinding baskom
Selagi kami mengisi buku tamu, Pak Tobi menghilang ke salah satu kamar lalu tak lama keluar dengan satu baskom bundar, kira kira berdiameter 50cm. Diletakannya baskom itu di lantai barulah terlihat di dalamnya ada satu sampai dua lusin bayi penyu meraung raung. Mereka lucu lucu dan tumpuk menumpuk diatas satu sama lain, semuanya berebut untuk mencoba memanjat dinding baskom yang licin sehingga malah ada ruang kosong di tengah baskom. Mungkin dipikir di luar baskom ini ada induknya atau ada laut.
Pak Tobi mulai bergaya mendongeng tentang anak anak penyu ini. Konon kabarnya induk penyu bisa hidup sampai seratus tahun tapi baru bisa bertelur mulai dari umur dua puluhan. Pertahun, seekor penyu betina bisa bertelur beberapa kali dan tiap kali bertelur masa pengeramannya adalah dua bulan. Nah, tugas pusat penangkaran itu adalah menjaga agar telur penyu bisa melalui masa pengeraman degnan baik. Caranya adalah dengan memindahkan telur telur penyu dari lubang asli ke tempat khusus pengeraman telur dan melepaskan anak-anak penyu yang baru menetas kembali ke laut. Pelepasan ini di lakukan satu hari setelah telur-telur menetas, kira kira jam 5 sore.
Kenapa perlu ada campur tangan manusia hanya untuk menjaga telur penyu? Karena banyak sekali bahaya yang mengancam telur-telur itu. Pertama tama, belum tentu telur bisa menetas karena suhu pasir yang tidak cocok, terlalu panas atau terlalu dingin. Kedua, banyak hewan dan bahkan manusia yang mengincar telur penyu untuk dimakan. Kalaupun susses menetas, penyu penyu mini ini juga harus bisa mencapai laut melewati rintangan hewan-hewan pemangsa yang sudah mengintai di pantai dan di laut. “Kalau tidak dijaga, dari puluhan sampai ratusan telur penyu dari satu induk, sisa satu sudah bagus,” tambah Pak Tobi mendramatisir.
Apa mereka tidak ada mekanisme perlawanan alami? Menurut Pak Tobi kadang kala beliau melihat induk penyu menanti anak-anaknya di laut untuk dijaga. Kalaupun tidak, ternyata di bagian bawah perut anak penyu masih tersisa sebagian kuning telur yang menjadi bekal mereka selama satu minggu sampai mereka bisa mencari makanan sendiri.
Setelah puas ngobrol dengan Pak Tobi, kami dipersilahkan menunggu kembali. Menurut penjaga di pantai, sudah ada satu penyu yang sedang naik tapi belum selesai menggali lubang.
Ternyata menunggu penyu bertelur itu lama. Sejak dari naik ke darat, perlu waktu sekitar dua jam untuk induk penyu mencari lokasi bertelur, meratakan pasir untuk badan mereka dan menggali lubang yang dalam untuk telur telurnya. Dalam proses ini, tidak boleh ada gangguan manusia karena si induk penyu bisa batal bertelur dan bahkan tidak kembali tahun berikutnya. Maka pengunjung hanya diperbolehkan melihat apabila si induk sedang tengah bertelur.
Tapi kenapa ya kita diperbolehkan melihat penyu bertelur, apa tidak mengganggu? “Kan kalau sedang bertelur, ya sudah kepalang tanggung. Ibaratnya sudah kebelet,” kata Pak Tobi sembari terkekeh kekeh.
Lagi enak tertidur tidur dihembus angin malam, tiba tiba datang dua puluh ojeg dan tamu tamunya. Semua turis lokal, mulai dari anak anak sampai kakek nenek. Wah malam itu yang tadinya sepi tiba tiba berjubel jubel dengan tawa riuh rendah turis turis baru ini. Kembali Pak Tobi menyambut mereka dan memutar kembali kaset dongeng nya yang mungkin sudah dihapal di luar kepala.
Kira kira pukul sepuluh malam, satu orang penjaga datang dari arah pantai tergesa-gesa. Yak, penyu nya sudah siap untuk dilihat! Mata kawan kawan saya yang sudah sepoi sepoi kembali menyala.Beserta rombongan turis yang baru datang, semua bergegas menuju pantai.

Seekor induk penyu hijau sedang bertelur. Hanya dari belakang karena matanya sensitif cahaya blitz.
Satu orang penjaga pun buru buru menghadang untuk memberi peringatan pada rombongan yang sudah tidak sabar ini. “Sampai di pantai, tolong jangan dinyalakan senternya karena bisa mengganggu penyu. Kalau mau foto, kalau bisa jangan pakai blits. Kalaupun mau pakai blits, jangan di arahkan ke kepala penyu karena matanya sensitif pada cahaya. Mohon kerja sama nya karena kalau tidak bisa mengganggu aktifitas bertelur mereka dan mungkin penyu nya tidak datang ke pantai ini lagi,” begitu teriak sang penjaga sebelum memperbolehkan kami menuju pantai.
Sesampai di pantai perlu beberapa waktu agar mata kami menyesuaikan diri dengan lingkungan gelap gulita dan satu persatu menyusuri pantai mengikuti langkah orang di depan. Beberapa penjaga ikut hilir mudik di sela sela rombongan, sibuk mengikatkan turis turis yang tetap saja menyalakan senter. Tidak tahu apakah mereka sengaja atau kurang paham atau tidak mendengar peringatan sebelumnya.
Perjalanan kaki hanya sebentar, sekitar 500 meter sebelum kami berjumpa penyu yang ternyata ukurannya cukup besar kurang lebih panjangnya satu setengah meter. Di sebelahnya seorang penjaga telah bersiap siap menyambut turis yang bedatangan. Semua turis di arahkan agar berada di samping dan belakang penyu agar tidak terlihat oleh hewan besar itu.
Sebenarnya sangat mengagumkan melihat binatang perkasa itu bertelur di pantai gelap gulita. Telur nya putih sekali dan sebesar bola bola pingpong, kontras dengan warna hitam pasir pantai itu. Sayangnya kegaguman saya berangsur angsur hilang dan berganti kekesalan oleh tingkah laku turis turis lokal yang semakin bandel. Banyak yang tetap saja memakai blits dan senter walaupun telah di wanti wanti pemakaiannya hanya terbatas ke arah telur.
Apakah anda bisa membayangkan apa rasanya kalau anda sedang melahirkan sembari ditonton dua puluh orang dengan kamera blits? Kasihan sekali si satu induk penyu ini.
Dalam perjalanan balik, sempat saya memberi masukan pada Pak Tobi agar sekaligus saja di beri larangan membawa kamera dan senter agar lebih tertib. “Ya memang sebaiknya gitu, tapi nanti mereka protes jauh jauh datang nggak boleh foto. Kan kita juga nggak enak,” jawabnya.
Saya bertanya balik, “Apa iya pak turis lokal segitu nakalnya?”. “Wah, malah kadang ada yang mau coba membeli telur penyu atau anak penyu nya sekalian. Makanya kalau ada banyak tamu, saya hanya ngeluarin sepuluh anak penyu. Takut kalau ada yang hilang kan saya yang dimarahin. Kalau turis asing malah lebih aman, menyentuh aja mereka nggak mau walaupun udah dibolehin,” begitu penjelasan mencengangkan dari Pak Tobi. Saya hanya bisa tertunduk malu dengan bangsa sendiri.
Tidak terasa waktu di jam tangan sudah hampir pukul sebelas malam. Kami pun pamit dan buru buru mencari ojeg agar bisa mendahului rombongan turis. Sebelum pergi, saya sempat bertanya sekali lagi ke Pak Tobi apakah benar bahwa pasti selalu ada penyu setiap hari sepanjang tahun di sini?.
“Iya, bener. Kalau musim bertelur dari Juli sampai Desember per malam bisa sampai enam puluh ekor. Kalau nggak lagi musim kadang cuma satu atau dua, tapi selalu ada. Cuma nggak menentu jam nya. Kemarin malam aja ada yang nungguin sampai jam tiga pagi.” Wah endengar jawaban ini, saya agak terhibur sedikit karena walaupun dengan perjalanan banyak perjuangan, toh penyu saya hari itu ontime.
Tips tambahan untuk pengunjung:
Dari tiga akomodasi yang letaknya di dalam Cagar Alam, hanya satu yang berada di dalam batas aman daerah konservasi penyu yaitu losmen Batu Besar. Dua losmen lainnya berada di tepi pantai dan walaupun bagus untuk tamu, ternyata merugikan untuk penyu karena cahaya dari losmen-losmen ini mengakibatkan aktifitas penyu bertelur terganggu.
Harga per orang di losmen dalam Cagar Alam kurang lebih Rp.150,000 sampai Rp.200,000 termasuk makanHarga per orang di losmen-losmen di luar Cagar Alam kurang lebih Rp.80,000 sampai Rp.150,000, tidak termasuk makan.
Dianjurkan menyewa motor karena kondisi jalan tanah yang sangat berlumpur kalau hujan. Apabila membawa mobil pribadi, usahakan minimal mobil kijang.
More pictures here
About this entry
You’re currently reading “Turtles, 365 days per year,” an entry on Fida's Portfolio
- Published:
- July 2, 2009 / 4:27 pm
- Category:
- Bahasa, Indonesia > Java > Ujung Genteng
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]